Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Desember 2009

Perbedaan Pertumbuhan, perkembangan, dan kematangan

Diposting oleh Nuy di 21.07 5 komentar
Perbedaan Pertumbuhan, perkembangan, dan kematangan

Perkembangan (Development) adalah rangkaian perubahan sepanjang rentang kehidupan manusia, yang bersifat progresif, teratur, berkesinambungan dan akumulatif, yang menyangkut segi kuantitatif dan kualitatif, sebagai hasil interaksi antara maturasi dan proses belajar. Sedangkan Pertumbuhan (Growth) merupakan perubahan ukuran organisme karena bertambahnya sel-sel dalam setiap tubuh organisme yang tidak bisa diukur oleh alat ukur atau bersifat kuantitatif. Atau secara bahasanya perubahan ukuran organisme dari kecil menjadi besar.

Maka Dapat kita simpulkan bahwa perbedaan antara perkembangan (Development) dengan pertumbuhan (Growth) terletak pada sifat yang berlangsung pada kedua proses tersebut, dalam hal ini pertumbuhan bersifat kuantitatif sedangkan perkembangan merupakan proses yang lebih kompleks meliputi kualitatif dan kuantitatif. Serta dapat kita tarik kesimpulan bahwa pertumbuhan merupakan salah satu bagian dari proses perkembangan, karena proses pertumbuhan individu mengikuti proses perkembangan yang bersifat kualitatif.

Kematangan seseorang merupakan salah satu bagian dari proses perkembangan individu, perkembangan akan senantiasa diikuti oleh kematangan secara bertahap dan menjadi kompleksitas dalam proses kematangan itu sendiri.

Perbedaan Pertumbuhan, perkembangan, dan kematangan

Manfat Mempelajari Psikologi Belajar

Diposting oleh Nuy di 21.03 0 komentar
Manfat Mempelajari Psikologi Belajar

Bagi seorang guru, yang tugas utamanya adalah mengajar, sangat penting memahami psikologi belajar. kegiatan pembelajaran, termasuk pembelajaran pendidikan agama Islam, sarat dengan muatan psikologis. mengabaikan aspek – aspek psikologis dalam proses pembelajaran akan berakibat kegagalan, sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai. Beberapa peran penting psikologi dalam proses pembelajaran adalah :
1. memahami siswa sebagai pelajar, meliputi perkembangannya, tabiat, kemampuan, kecerdasan, motivasi, minat, fisik, pengalaman, kepribadian, dan lain-lain
2. memahami prinsip – prinsip dan teori pembelaaran
3. memilih memetode – metode pembelajaran dan pengajaran
4. meetapkan tujuan pembelajaran dan pengajaran
5. menciptaka situasi pembelajaran dan pengajaran yang kondusif
6. memilih dan menetapkan isi pengajaran
7. membantu peserta didik yang mengalami kesulitan belajar
8. memilih alat Bantu pembelajaran dan pengajaran
9. menilai hasil pembelajaran dan pengajaran
10. memahami dan mengembangkan kepribadian dsan profesi guru
11. membimbing perkembangan siswa

Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa antara proses perkembangan dengan proses belajar mengajar memiliki keterkaitan. Sehubungan dengan ini, setiap guru sekolah selayaknya memahami seluruh proses dan perkembangan manusia, khususnya siswa. Pengetahuan mengenai proses dan perkembangan dan segala aspeknya itu sangat bermanfaat, antara lain :
1. guru dapat memberikan layanan dan bantuan dan bimbingan yang tepat kepada siswa dengan pendekatan yang relefan denga tingakat perkembangannya
2. guru dapat mengantisipasi kemungkinan – kemungkinan timbulnya kesulitan belajar siswa tertentu
3. guru dapat memertimbangkan waktu yang tepat dlam memulai aktifitas proses belajar mengajar bidang studi tertentu
4. guru dapat menemukan dan menetapkan tujuan – tujuan pengajaran sesuai dengan kemampuan psikologisnya

Dari beberapa peranan psikologi belajar di atas, dapat kita khususkan sebagai berikut :
a. psikologi belajar memiliki peranan penting dalam membantu mempersiapkan guru atau calon guru yang professional
b. pengetahuan tentang psikologi belajar diharapkan mampu membantu memecahkan permasalahan siswa dalam belajar
c. pengetahuan tentang psikologi belajar memudahkan penerapan pengetahuan, pendekatan dan komunikasi kepada anak didik
d. pengetahuan tentang psikologi belajar membantu mencipatakan suasana edukatif dan efektif

Manfat Mempelajari Psikologi Belajar



Sabtu, 05 Desember 2009

Penggolongan Kata Secara Tradisional

Diposting oleh Nuy di 04.45 0 komentar
Penggolongan Kata Secara Tradisional

Tardjan Hadidjaja (1965:53-99) dalam bukunya Tatabahasa Indonesia cetakan keempat. menggolongkan kata menjadi seuluh. Kesepuluh jenis atau golongan tersebut ialah: 1) kata benda, 2) kata kerja, 3) kata ganti, 4) kata bilangan, 5) kata sifat, 6) kata tambahan, 7) kata depan, 3) kata penghubung, 9) kata sanding, dan 10) kata seru.

1) Kata Benda

Kata benda ialah kata-kata yang menyatakan benda. Kata benda dapat dibedakan berdasarkan:

a. Bentuknya.
Menurut bentuknya, kata benda dapat dibedakan menjadi: (1) kata benda kata asal, seperti: hati, orang, rakit; (2) kata benda kata majernuk, seperti: burung kakak tua, Lautan Teduh; (3) kata benda kata berulang, seperti: tengah-tengahnya, batang-batang; dan 4.) kata benda kata bersambung, seperti: keadaan, lautan, pikiran.

b. Keadaannya
Menurut kedaannya, kata benda ddapat dibedakan menjadi dua yaitu: (1) kata benda kongkrit yaitu kata benda yang menyatakan bahwa benda-bendanya itu memang benar-benar ada, seperti: orang, burung, buku pelajaran, dan yang menyatakan benda khayal, seperti: hantu, pelesit, bidadari, dan (2) kata benda abstrak yaitu kata yang menyatakan nama benda yang hanya dapat difahami oleh pikiran akan peri adanya itu, seperti: ilham, angan-angan, perdamaian.

c. Artinya
Menurut artinya, kata benda dapat dibagi menjadi: (1) kata benda nama jenis, seperti: rumah, daun, matahari; (2) nama diri, seperti: Leutan Teduh, Torstein; (3) kata benda nama zat, seperti: air, angin dan (4) kata benda nama kumpulan, seperti: berkas, rumpun, kelompok,


2) Kata Kerja

Kata kerja dapat dibagi bermacam-macam, bergantung dari segi tinjaunya. Untuk menggolongkan kata kerja dapat ditinjau dari:

a. Bentuknya

Menurut bentuknya, kata kerja dapat dibedakan menjadi empat yaitu: (1) kata kerja kata asal, seperti: hendak, jatuh; (2) kata kerja kata majemuk, seperti: turun naik, ditandatangani, (5) kata kerja kata berulang, seperti: Berkejar-kejaran; dan (6) kata kerja bersambungan, seperti: menghadapi, terdorong.

b. Hubungannya

Berdasarkan hubungan antara pokok dan sebutannya, kata kerja digolongkannya mnjadi dua, yaitu:

a. Kata keja bentuk tindak, ialah apabila pokok itu bertindak yakni melakukan atau
mengenakan pekerjaan, seperti: duduk, turun naik, berlari-lari, berjual-beli;

b. Kata kerja bentuk taggap ialah. apabila pokok itu menanggapi yakni diberlakukan atau dikenai pekerjaan, seperti: dipukul, dipukul mundur, terjerumus, tertunda-tunda.

3) Kata Ganti

Kata ganti ialah perkataan yang akan menjadi pengganti nama orang atau nama benda. Jenisnya dapat dibedakan:

a. Kata ganti orang, yang dapat dibedakan lagi menjadi: (1) kata ganti orang kesatu (tunggal atau rufrad dan jamak). contohnya: aku, hamba, kami; (2) kata ganti orang kedua (tunggal atau mufrad dan jarak), contohnya: engkau, kalian, kamu; (3) kata ganti orang ketiga (mufrad dan jamak), contohnya: ia,dia, mereka.

b. Kata ganti pemilik, yang dapat dibedakan mejadi: (1) kata ganti pemilik kesatu (mufrad dan jamak), contoh: aku, kami, kalian; (2) kata ganti pemilik kedua (mufrad dan jamak), contohnya: tuan, mu, kamu; dan (3) kata ganti pemilik tiga (mufrad dan jamak), seperti: nya, mereka.

c. Kata ganti penanya, seperti: apa, siapa;
d. Kata ganti penunjuk, seperti: ini dan itu;
e. Kata ganti penghubung ialah kata yang.

4) Kata Bilangan

Kata bilangan dapat digolongkan dengan segi tinjau:

a. Bentuk
Berdasarkan bentuknya, kata bilangan dapat dibedakan menjadi: (1) bentuk kata asal, sererti: tujuh, banyak; (2) Bentuk kata majemuk, seperti: dua tiga hari, seorang dua; dan (5) bantuk kata berulang, seperti: tiga-tiga, dua-dua;

b. Artinya

Menurut artinya kata bilangan dapat dibedakan atas: (1) Kata bilangan pokok, yang terdiri lagi atas: a)kata bilangan pokok yang tertentu, satu, dua tiga; b) kata bilangan pokok yang tak tentu, seperti: semua, segala, tiaptiap; (2) Kata bilangan tingkat, yang dapat dibedakan lagi menjadi: a) kata bilangan tingkat yang tentu, misalnya: kesatu, kedua dan b) kata bilangan yang tak tentu, Seperti: kesekian. (3) Kata bilangan pecahan, seperti: sepertiga, seperempat.



5) Kata Sifat

Kata sifat ialah kata yang menyatakan sifat atau keadaan sesuatu benda, Macamnya dapat dilihat dari:

a. Bentuknya
Berdasarkan bentuknya, kata sifat dapat dibedakan menjadi: (1) kata sifat bentuk kata asal, seperti: besar, lebar; (2) kata sifat bentuk kata majemuk, seperti: merah putih, gagah berani, dan (3) kata sifat bentuk berulang, seperti: tegap-tegap, besar-besar, serta (4) kata sifat bentuk bersambungan, sererti: berbau, meluas, kemerah-merahan.

b. Adat Pemakaiannya
Berdasarkan adat pemakainya, kata sifat dapat dibedakan menjadi: (1) yang rnenentukan (pada) kata benda, seperti: jeruk manis, orang besar, padi menguning, dan (2) sebagai sebutan dalam kalimat, seperti: di muara sungai pagi-pagi orang sudah sibuk.

6) Kata Tambahan

Kata tambahan ialah kata-kata yang berfungsi sebagai keterangan pada kata-kata yang bukan kata benda. Golongan ini dapat dibedakan menjadi:
a. penunjuk waktu, seperti: pagi-pagi, baru, setelah;
b. penunjuk tempat, seperti: di sini, di atas, ke sana;
c. penunjuk peri keaadaan, seperti: beribahati, sungguh-sungguh;
d. penunjuk banyak dan taraf ketandasan, seperi: terlalu, semata-mata, hanya, agak; dan
e. penunjuk taraf kepastian, yang dapat dibedakar lagi menjadi: (1) kepastian, seperti:
pasti, sungguh (2) kemungkinan, seperti: mungkin, barangkali, (3) pengharapan dan permintaan, seperti: semoga, mudah-mudahan, dan (4) ingkar, seperti: tidak, jangan.

7) Kata Depan

Kata depan ialah kata-kata yang selalu berada di depan kata benda atau kata ganti, sedangkan hubungannya dengan kata benda dan kata ganti yang mengikutinya itu lebih erat daripda hubungan dengan kata yang di depannya, bahkan sering juga di depannya itu tidak ada sepatah kata pun. Berdasarkan artinya, kata depan dapat dibagi menjadi:

a. kata depan pengantar tempat, seperti: ke, di, dari;
b. kata depan pengantar pihak yang akan menerima bagian, seperti: untuk, buat, bagi;
c. kata depan pergantar alat, kawan, atau lawan, ialah kata dengan;
d. kata maksud dan tujuan, seperti: akan, untuk, guna;
e. kata depan pengantar pelaku pekerjaan, ialah, oleh;
f. kata depan penatar waktu atau tempat, seperti: hingga, hamper, sampai; dan
g. kata depan pengantar sebab, seperti: atas, demi, sebab.

8) Kata Penghubung

Kata penghubung ialah kata-kata yang gunanya untuk menghubungkan sebuah perkataan dengan perkataan yang mendahuluinya atau sebuah kalimat dengan kalimat yang mendahuluinya. Menurut artinya, kata ini dapat dibedakan menjadi:
a. kata penghubung penunjuk gabungan, seperti: serta, dan, lagi pula;
b. kata penghuhung pengantar penunjuk waktu, seperti: waktu, ketika, setelah, sementara;
c. kata penghubung penunjuk maksud atau tujuan, seperti: agar, supaya, biar.
d. kata penghubung penunjuk perlawanan, seperti: tetapi, akan tetapi, melainkan;
e. kata penghubung penunjuk sebab atau akibat, seperti: sebab, karena, sampai;
f. kata penunjuk sebab yang tak dipedulikan atau peryataan mengalah, seperti: biar,
biarpun, walau, biar sekalipun; dan
g. kata penghubung penunjuk pelaku, pelengkap, atau keterangan, ialah bahwa (yang).

9) Kate Sandang

Kata sandang ialah kata yang gunanya untuk menegaskan kata yang berikutnya yang disandanginya, hingga kata-kata itu mempunyai arti yang tentu, tersekat dari nada yang lain—lain. Menurut fungsinya, kata sandang dapat dibedakan menjadi: a) kata sandang pembentuk kata benda, Yang kurap, si Cebol, Merah putih; b) untuk mengeraskan arti, menyekat, atau menceraikan kata benda daripada yang lain-lain, seperti: kembalikan saja kepada si pengirim, saya sendiri menjemputmu kemarin; c) untuk menghormat, seperti.: sang Bangsawan, sang Ibu; dan d) untuk menyekat atau menceraikan sesuatu dan kelornpok atau “dunianya’, seperti: sebuah kursi, seekor kambing.

10) Kata Seru

Kata seru ialah kata-kata yang gunanya hanya untuk “melepaskan” perasaan, keluarnya pun biasanya tiada dengan sengaja, seolah-olah terlompat begitu saja dari mulut. Menurut sifatnya, kate seru dapat dibedakan menjadi:
a. kata seru sejati, aduh, amboi, wahai;
b. kata seru tiruan bunyi, seperti: ciap, meong, das
c. kata seru yang terjadi dan kata-kata biasa, seperti:kasihan, inalillahi, saying.
Selain itu, kata seru pun dapat dibedakan menurut maksudnya yaitu:
a. penyeru biasa, seperti: hai nenekku;
b. kata seru yang menyataka kata heran, seerti: wah;
d. kata seru yang menyataken rase sakit atau terancam behaya, seperti: aduh
d. kata seru yang menyatakan rasa iba atau sedih, seperti: kasihan, amboi
e. kata seru yang menyatakan kecewa, seperti: saying, celaka;
f. kata seru yang menyatakar kaget bercampur sedih, seperti: masyaallah;
g. kata seru menyetakan rasa lega, sererti: alhamdulillah;
h. kata seru yang menyatakan jijik, seperti: cih, cis.



Penggolongan Kata Secara Tradisional

Selasa, 01 Desember 2009

Karasteristik Penyesuaian Diri

Diposting oleh Nuy di 04.30 0 komentar
Karasteristik Penyesuaian Diri

Tidak selamanya individu berhasil dalam melakukan penyesuaian diri, karena kadang-kadang ada rintangan tertentu yang menyebabkan tidak berhasil melakukan penyesuaian diri.Rintangan-rintangan tertentu itu mungkin terdapat dalam dirinya atau mungkin di luar dirinya. Dalam hubungannya dengan rintangan-rintangan tersebut ada individu-individu yang dapat melakukan penyesuaian diri yang positif namun ada juga yang melakukan penyesuaian diri yang salah. Berikut ini akan ditinjau penyesuaian diri secara positif dan penyesuaian diri yang salah.

1. Penyesuaian Diri Secara Positif

Mereka yang tergolong melakukan penyesuaian diri secara positif ditandai hal-hal sebagai berikut:

a) Tidak menunjukkan adanya ketegangan emosional
b) Tidak menunjukkan adanya mekanisme-mekanisme psikologis
c) Tidak menunjukkan adanya frustasi pribadi
d) Memiliki pertimbangan rasional dan pengarahan diri
e) Mampu dalam belajar
f) Menghargai pengalaman
g) Bersikap realistic dan Objektif

Dalam melakukan penyesuaian diri secara positif, individu akan melakukannya dalam berbagai bentuk, antara lain:

a) Penyesuaian dengan menghadapi masalah secara langsung
Dalam sintaksis ini individu secara langsung menghadapi masalahnya dengan segala akibat-akibatnya. Ia melakukan segala tindakan sesuai dengan masalah yang dihadapinya. Misalnya seorang siswa yang terlambat menyerahkan tugas karena sakit, maka ia menghadapinya secara langsung, ia mengemukakan segala masalahnya kepada gurunya.

b) Penyesuaian dengan melakukan eksplorasi(penjajahan)
Dalam situasi ini individu mencari berbagai bahan pengalaman untuk dapat menghadapi dan memecahkan masalahnya. Misalnya; seorang siswa yang merasa kurang mampu dalam mengerjakan tugas, ia akan mencari bahan dalam upaya menyelesaikan tugas tersebut, dengan membaca buku, konsultasi, diskusi, dan sebagainya.

c) Penyesuaian dengan trial and error atau coba-coba
Dengan cara ini individu melakukan suatu tindakan coba-coba, dalam arti kalau menguntungkan diteruskan dan kalau gagal tidak diteruskan. Taraf pemikiran kurang begitu berperan dibandingkan dengan cara eksplorasi.

d) Penyesuaian denga subsitusi
Jika individu merasa gagal dalam menghadapi masalah, maka ia dapat memperoleh penyesuaian dengan jalan mencari pengganti. Misalnya gagal nonton film di bioskop, dia pindah nonton TV.

e) Penyesuaian diri dengan menggali kemampuan diri
Dalam hal ini individu mencoba menggali kemampuan-kemampuan khusus dalam dirinya, dan kemudian dikembangkan sehingga dapat membantu penyesuaian diri. Misalnya seorang siswa yang mempunyai kesulitan dalam keuangan, berusaha mengembangkan kemampuanya dalam menulis(mengarang). Dari usaha mengarang ia dapat membantu mengatasi kesulitan dalam keuangan.

f) Penyesuaian diri dengan belajar
Dengan belajar, individu akan banyak memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dapat membantu menyesuaikan diri.Misalnya seorang guru akan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak belajar tentang berbagai pengetahuan keguruan.

g) Penyesuaian dengan inhibisi dan pengendalian diri
Penyesuaian diri akan lebih berhasil jika disertai dengan kemampuan memilih tindakan yang tepat dan pengendalian diri secara tepat pula. Dalam situasi ini individu berusaha memilih tindakan mana yang harus dilakukan dan tindakan mana yang tidak harus dilakukan. Cara inilah yang disebut inhibisi. Disamping itu, individu harus mampu mengendalikan dirinya dalam melakukan tindakannya.

h) Penyesuaian dengan perencanaan yang cermat
Dalam situasi ini tindakan yang dilakukan merupakan keputusan yang diambil berdasarkan perencanaan yang cermat. Keputusan diambil setelah dipertimbangkan dari berbagai segi, antara lain segi untung dan ruginya.

2. Penyesuaian Diri Yang Salah
Kegagalan dalam melakukan penyesuaian diri secara positif, dapat mengakibatkan individu melakukan penyesuaian yang salah. Penyesuaian diri yang salah ditandai dengan berbagai bentuk tingkah laku yang seba salah, tidak terarah, emosional, sikap yang realistic, agresif, dan sebagainya. Ada bentuk reaksi dalam penyesuaian yang salah yaitu: (i) reaksi bertahan, (ii) reaksi menyerang, dan (iii) reaksi melarikan diri.

1) Reaksi Bertahan (Defense Reaction)
Individu berusaha untuk mempertahankan dirinya, seolah-olah tidak menghadapi kegagalan. Ia selalu berusaha untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak mengalami kegagalan.Bentuk khusus reaksi ini antara lain:
• Rasionalisasi, yaitu bertahan dengan mencari-cari alasan (dalam) untuk membenarkan tindakannya.
• Represi, yaitu berusaha untuk menekan pengalamannya yang dirasakan kurang enak kea lam tidak sadar. Ia berusaha melupakan pengalamannya yang kurang menyenangkan. Misalnya seorang pemuda berusaha melupakan kegagalan cintanya dengan seorang gadis.
• Proyeksi, yaitu melemparkan sebab kegagalan dirinya kepada pihak lain untuk mencari alasan yang dapat diterima. Mislanya seorang siswa yang tidak lulus mengatakan bahwa gurunya membenci dirinya.
• Sour Grapes (anggur kecut), yaitu dengan memutarbalikkan kenyataan. Misalnya seorang siswa yang gagal mengetik, mengatakan bahwa mesin tiknya rusak, padahal dia sendiri tidak bias mengetik.



2) Reaksi Menyerang
Orang yang mempunyai penyesuaian diri yang salah menunjukan tingkah laku yang bersifat menyerang untuk menutupi kegagalannya. Ia tidak mau menyadari kegagalannya. Reaksi-reaksinya tampak dalam tingkah laku:
• Selalu membenarkan diri
• Mau berkuasa dalam setiap situasi
• Mau meiliki segalanya
• Bersikap senang mengganggu orang lain
• Menggertak baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan
• Menunjukkan sikap permusuhan secara terbuka
• Menunjukkan sikap menyerang dan merusak
• Keras kepala dalam perbuatannya
• Bersikap balas dendam
• Memperkosa hak orang lain
• Tindakan yang serampangan, dan
• Marah secara sadis

3) Reaksi Melarikan Diri (Escape Reaction)
Dalam reaksi ini orang yang mempunyai penyesuaian diri yang salah akan melarikan diri dari situasi yang menimbulkan kegagalannya,reaksinya tampak dalam tingkah laku sebagai berikut: berfantasi yaitu memuaskan keinginan yang tidak tercapai dalam bentuk angan-angan (seolah-olah sudah tercapai), banyak tidur, minum-minuman keras, bunuh diri, menjadi pecandu ganja, narkoba, dan regresi yaitu kembali kepada tingkah laku yang semodel dengan tingkat perkembangan yang lebih awal (misal orang dewasa yang bersikap dan berwatak seperti anak kecil), dan lain-lain.

4) Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Proses Penyesuaian Diri
Secara keseluruhan kepribadian mempunyai fungsi sebagai penentu primer terhadap penyesuaian diri. Penentu berarti factor yang mendukung, mempengaruhi, atau menimbulkan efek pada proses penyesuaian. Secara sekunder proses penyesuaian ditentukan oleh factor-faktor yang menentukan kepribadian itu sendiri baik internal maupun eksternal.Penentu penyesuaian identik dengan factor-faktor yang mengatur perkembangan dan terbentuknya pribadi secara bertahap.Penentu-penentu itu dapat dikelompokkan sebagai berikut:

• Kondisi Jasmaniah
Karena struktur jasmaniah merupakan kondisi primer bagi tingkah laku maka dapat diperkirakan bahwa system saraf, kelenjar, dan otot merupakan factor yang penting bagi proses penyesuaian diri. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gangguan-gangguan dalam system saraf, kelenjar, dan otot dapat menimbulkan gejala-gejala gangguan mental, tingkah laku, dan kepribadian.Dengan demikian, kondisi system-sistem tubuh yang baik merupakan syarat bagi tercapainya proses penyesuaian diri yang baik.

• Perkembangan, Kematangan, dan Penyesuaian Diri
Dalam Proses perkembangan, respon anak berkembang dari respon yang bersifat instinktif menjadi respon yang diperoleh melalui belajar dan pengalaman. Dengan bertambahnya usia perubahan dan perkembangan respon, tidak hanya melalui proses belajar saja melainkan anak juga menjadi matang untuk melakukan respon dan ini menentukan pola-pola penyesuaian dirinya.

Sesuai dengan hokum perkembangan, tingkat kematangan yang dicapai berbeda antara individu yang satu dengan yang lainnya, sehingga pencapaian pola-pola penyesuaian diri pun berbeda pula secara individual. Dengan kata lain, pola penyesuaian diri akan bervariasi sesuai dengan tingkat perkembangan dan kematangan yang dicapainya. Disamping itu, hubungan antara penyesuaian dengan perkembangan dapat berbeda menurut jenis aspek perkembangan yang dicapai. Kondisi-kondisi perkembangan mempengaruhi setiap aspek kepribadian seperti: emosional, social, moral, keagamaan, dan intelektual. Dalam fase tertentu salah satu aspek mungkin lebih penting daripada kematangan social, dan kemtangan social merupakan yang terpenting dalam penyesuaian diri. Contohnya adalah banyak orang yang telah mengetahui bahwa menolong itu baik, tetapi mereka banyak yang tidak melakukannya.

• Penentu Psikologis terhadap Penyesuaian Diri
Banyak sekali factor psikologis yang mempengaruhi penyesuaian diri, diantaranya adalah: pengalaman, belajar, kebutuhan-kebutuhan, determinasi diri, dan frustasi.

1) Pengalaman
Tidak semua pengalaman mempunyai arti bagi penyesuaian diri. Pengalaman-pengalaman tertentu yang mempunyai arti dalam penyesuaian diri adalah pengalaman yang menyenangkan dan pengalaman traumatic (menyusahkan). Pengalaman yang menyenangkan misalnya memperoleh hadiah dalam suatu kegiatan, cenderung akan menimbulkan proses penyesuaian diri yang baik, dan sebaiknya pengalaman traumatic akan menimbulkan penyesuaian yag kurang baik.

2) Belajar
Proses belajar merupakan suatu proses dasar yang fundamental dalam proses penyesuaian diri, karena melalui belajar ini akan berkembang pola-pola respon yang membentuk kepribadian. Sebagian besar respon-respon dan ciri-ciri kepribadian lebih banyak yang diperoleh dari proses belajar daripada yang diperoleh secara diwariskan. Dalam proses penyesuaian diri belajar merupakan suatu proses modifikasi tingkah laku sejak fase-fase awal dan berlangsung terus sepanjang hayat dan diperkuat dengan kematangan.

3) Determinasi diri
Dalam proses penyesuaian diri, disamping ditentukan oleh faktor-faktor tersebut di atas, orangnya itu sendiri menentukan dirinya, terdapat faktor kekuatan yang mendorong untuk mencapai sesuatu yang baik atau buruk, untuk mencapai taraf penyesuaian yang tinggi, dan atau merusak diri. Faktor-faktor itulah yang disebut determinasi diri.

Determinasi diri mempunyai peranan yang penting dalam proses penyesuaian diri karena mempunyai peranan dalam pengendalian arah dan pola penyesuaian diri. Keberhasilan atau kegagalan penyesuaian diri akan banyak ditentukan olh kemampuan individu dalam mengarahkan dan mengendalikan dirinya, meskipun sebetulnya situasi dan kondisi tidak menguntungkan bagi penyesuaian dirinya. Ada beberapa orang dewasa yang mengalami penolakan ketika masa kanak-kanak, tetapi mereka dapat menghindarkan diri dari pengaruh negatif karena dapat menentukan sikap atau arah dirinya sendiri.

4) Konflik dan penyesuaian
Tanpa memperhatikan tipe-tipe konflik, mekanisme konflik secara esensial sama yaitu pertentangan antara motif-motif. Efek konflik pada perilaku akan tergantung sebagian pada sifat konflik itu sendiri. Ada beberapa pandangan bahwa semua konflik bersifat mengganggu atau merugikan. Namun dalam kenyataan ada juga seseorang yang mempunyai banyak konflik tanpa hasil-hasil yang merusak atau merugikan. Sebenarnya, beberapa konflik dapat bermanfaat memotivasi seseorang untuk meningkatkan kegiatan. Cara seseorang mengatasi konfliknya dengan meningkatkan usaha kea rah pencapaian tujuan yang meguntungkan secara social, atau mungkin sebaliknya ia memecahkan konflik dengan melarikan diri, khususnya lari ke dalam gejala-gejala neurotis.

• Lingkungan Sebagai Penentu Penyesuaian Diri
Berbagai lingkungan anak seperti keluarga dan pola hubungan di dalamnya, sekolah, masyarakat, kultur, dan agama berpengaruh terhadap penyesuaian diri anak.

1) Pengaruh rumah dan keluarga
Dari sekian banyak factor yang mengondisikan penyesuaian diri, factor rumah dan keluarga merupakan faktor yang sangat penting, karena keluarga merupakan satuan kelompok social terkecil. Interaksi social yang pertama diperoleh individu adalah dalam keluarga. Kemampuan interaksi social ini kemudian akan dikembangkan di masyarakat.

2) Hubungan orang tua dan anak
Pola hubungan antara orang tua dengan anak akan mempunyai pengaruh terhadap proses penyesuaian anak-anak. Beberapa pola hubungan yang tepat dapat mempengaruhi penyesuaian diri antara lain:

a) Menerima (acceptance)
Yaitu situasi hubungan di mana orang tua menerima anaknya dengan baik. Sikap penerimaan ini dapat menimbulkan suasana hangat dan rasa aman bagi anak.

b) Menghukum dan disiplin yang berlebihan
Dalam pola ini, hubungan orang tua dengan anak bersifat keras. Disiplin yang ditanamkan orang tua terlalu kaku dan berlebihan sehingga dapat menimbulkan suasana psikologis yang kurang menguntungkan anak

c) Memanjakan dan melindungi anak secara berlebihan
Perlindungan dsn pemanjaan secara berlebihan dapat menimbulkan perasaan tidak aman, cemburu, rendah diri, canggung, dan gejala salah suai lainnya.

d) Penolakan
Yaitu pola hubungan di mana orang tua menolak kehadiran anaknya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penolakan orang tua terhadap anaknya dapat menimbulkan hambatan dalam penyesuaian diri.

3) Hubungan saudara
Suasana hubungan saudara yang penuh persahabatan, kooperatif, saling menghormati, penuh kaih sayang, mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk tercapainya penyesuaian yang lebih baik. Sebaliknya suasana permusuhan, perselisihan, iri hati, kebencian, iri hati, kebencian, dan sebagainya dapat menimbulkan kesulitan dan kegagalan penyesuaian diri


4) Masyarakat
Keadaan lingkungan masyarakat di mana individu berada merupakan kondisi yang menentukan proses dan pola-pola penyesuaian diri. Kondisi studi menunjukkan bahwa gejala tingkah laku yang tidak sesuai bersumber dari keadaan masyarakat. Pergaulan yang salah di klangan remaja dapat mempengaruhi pola-pola penyesuaian dirinya.

5) Sekolah
Sekolah mempunyai peranan sebagai media untuk memperngaruhi kehidupan intelektual, social, dan moral para siswa. Suasana di sekolah baik social maupun psikologis menentukan proses dan pola penyesuaian diri.Di samping itu, hasil pendidikan yang diterima anak di sekolah akan merupakan bekal bagi proses penyesuaian diri di masyarakat.

• Kultural dan Agama sebagai Penentu Penyesuaian Diri

Proses penyesuaian diri anak mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat secara bertahap dipengaruhi oleh factor-faktor kultur dan agama. Lingkungan cultural di mana individu berada dan berinteraksi akan menentukan pola-pola penyesuaian dirinya. Contohnya tata cara kehidupan di sekolah, mesjid, dan semacamnya akan mempengaruhi bagaimana anak menempatkan diri dan bergaul dengan masyarakat sekitarnya.

Agama memberikan suasana psikologis tertentu dalam mengurangi konflik, frustasi, dan ketegangan lainnya. Agama juga memberikan suasana damai dan tenang bagi anak. Agama merupakan sumber nilai, kepercayaan, dan pola-pola tingkah laku yang akan memberikan tuntunan bagi arti, tujuan, dan kestabilan, hidup umat manusia. Kehidupan yang efektif menuntut adanya tuntunan hidup yang mutlak. Sembahyang dan berdo’a merupakan medium dalam agama untuk menuju kea rah kehidupan yang berarti. Agama memgang peranan penting dalam proses penyesuaian diri.

Karasteristik Penyesuaian Diri





Kamis, 12 November 2009

MAKALAH METODE PENELITIAN PSIKOLOGI BELAJAR DAN MANFAAT MEMPELAJARI PSIKOLOGI BELAJAR

Diposting oleh Nuy di 14.47 0 komentar
MAKALAH METODE PENELITIAN PSIKOLOGI BELAJAR DAN MANFAAT MEMPELAJARI PSIKOLOGI BELAJAR


A. PENDAHULUAN
Dalam lingkup yang lebih khusus, terutama dalam konteks kelas, psikologi belajar atau psikologi pembelajaran banyak memusatkan perhatiannya pada psikologi dan pembelajaran. Fokusnya adalah aspek – aspek psikologis dalam aktivitas pembelajara, sehingga dapat diciptakan suatu proses pembelajaran yang efektif. Upaya tersebut, dapat dilakukan dengan mewujudkan prilaku mengajar yanfg efektif pada guru, dan mewujudkan prilaku belajar pada siswa yang terakait dengan proses embelajaran.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa psikologi belajar mempunyai peranan besar dalam proses pembelajaran khususnya bagi kita sebagai calon guru pendidikan agama Islam. Maka, dalam makalah inipun mengangkat masalah metode penelitian psikologi belajar dan manfaat mempelajari psikologi belajar yang berhubungan langsung dengan pendidikan agama Islam.

B. METODE PENELITIAN PSIKOLOGI BELAJAR
Secara singkat dan umum, metode sering dipahami sebagai cara atau jalan yag ditempuh seseorang dalam melakukan suatu kegiatan berkaitan dengan pikologi belajar, metode tertentu dipakai untuk mengumpulkan berbagai data dan informasi penting yag bersifat psikologis dan berkaita dengan proses pembelajaran.
Riset – riset psikologis berkenaan dengan pembelajaran pendidikan agama Islam, memanfaatkan metode tertentu, seperti : (1) eksperimen, (2) kuesioner, (3) studi kasus, (4) penyelidikan klinis, (5) obsevasi naturalistic.
1. Metode Eksperimen
Pada porinsipnya, metode eksperimen merupakan serangkaian percobaan yang di lakukan eksperimenter di dalam laboratorium atau ruangan tertentu. Teknik pelakasanaannya dengan menyesuaikan data yang akan diangkat, seperti, data pendengaran siswa, pengelihatab siswa dan gerak mata siswa ketika sedang membaca. Selain itu, eksperimen dapat pula dignakan untuk mengukur kecepatan bereaksi peserta didik terhadap stimulus tertentu dalam proses belajar. Metode eksperimen lebih utama digunakan dalam risetnya, hal ini karena, data dan informasi yng dihimpun lebih bersifat definitive ( pasti ) dan llebih ilmiaH.
Yang perlu diperhatikan oleh eksperimenter adalah sikap subjektivitas dari subjek yang diteliti. Untuk mengantisipasi munculnya sikap subjektivitas dari subjek yang diteliti, rancangan eksperimen biasanya dibuat sedemikian rupa, sehingga seluruh unsure penelitian termasuk penggunaan laboratorium dan subjek yng akan benar – benar diteliti benar – benar memenuhi syarat penelitian eksperimental.
Dalam metode eksperimen, objek yang akan diteliti di bagi kedalam dua kelompok, yaitu (1) kelompok percobaan ( eksperimental group ), dan (2) kelompok pembanding ( control group ). Kelompok percobaan terdiri atas sejumlah orang yang tingakah lakunya diteliti dengan mendapat perlakuan khusus sesuai dengan data yang akan dihimpun. Kelompok pembanding, juga terdri atas objek dan jumlah katagorinya sama dengan kelompok percobaan, tetapi perilakunya tidak diteliti. Setelah itu data yang berasal dari kelompok percobaan dengan kelompok pembanding. Langkah selanjutnya, adalah melakukan analisis, enafsiran, dan menyimpulkan dengan dibantu dengan statistic tertentu.

2. Metode Kuesioner
Metode ini, lebih banyak menggunakan sample yang bias dijangkau disamping unit cost setiap responden lebih murah. Contoh data yang yang dapat dikumpulkan atau dihimpun dengan metode ini adalah : (1) karkteristik pribadi siswa seperti jenis kelamin, usia dan lain sebagainya, (2) latar belakang siswa, (3) perhatian, minat, da bakat siswa pada mata pelajaran tertenru, (4) factor factor pendorong dan penghambat siswa dalam mengikuti mata pelajaran tertentu, (5) aplikasi mata pelajaran tertentu dalam kehidupan sehari – hari, (6) pengaruh aplikasi mata pelajaran tertentu dalam kehidupan sehari – hari.
Metode kuesioner, sering disebbut metode surat- menyurat ( mail survey), karena dalam pelaksanan peyebaran dan perngembaliannya sering dikirim ked an dari responden melalui jasa pos atau email.

3. Metode Studi Kasus ( Case Study )
Metode Studi Kasus atau Case Study merupakan metode penelitin yang digunakan untuk memperoleh sebuah gambaran terperinci mengenai aspek – aspek psikologis seorag siswa atau sekelompok siswa tertentu.
Fenomena – fenomena dan berbagai peristiwa yang diselidiki dengan metode ini lazimnya terus menerus diikuti perlembangannya selama kurun waktu tertentu. Studi kasus akan memerlukan waktu lebih lama apabila digunakan untukmenyelidiki fenomene genetika yang dihubungkan dengan prilaku belajar ( perkembangan belajar )

4. Penyelidikan Klinis ( Clinical Method )
Metode klinis hanya digunakan oleh pra ahlu psikologi klinis atau psikiater. Dalam metode ini, terdapat prosedur diagnosis dan penggolongan penyakit kelainan jiwa serta cara – cara memberi perlakuan pemulihan terhadap kelainan jiwa tersebut.
Dalam pelaksanaan penggunaan metode klinis, peneliti menyediakan benda – benda dan pertanyaan tertentu yang boleh diselesaika oleh anak secara bebas menurut persepsi dan kehendaknya. Selanjutnya, peneliti mengajukan lagi pertanyaan atau tugas tambahan untuk mendukubg data yang dihimpun sebelumnya.
Metode klinis pada umumny hanya diberlakuka untuk meyelidiki anak atau siswa yang mengalami penyimpangan prilaku pikologis .
Sasaran yang kan dicapai oleh peneliti untuk memastikan sebab- sebab timbulnya ketidak normalan prilaku siswa atau kelompok kecil siswa. Selanjutnya peneliti berupaya memilih dan menentukan cara – cara mengatasi prilaku penyimpagan tersebut.

5. Observasi Naturalisik
Metode Observasi Naturalisik merupakan jenis observasi yang dilakukan secara ilmiah. Dalam hal ini peneliti berada di luar objek yang diteliti atau ia tidak menampakkan diri sebagai orang yng melakukan penelitian.
Seorang peneliti atau guru yang menjadi asistennya dapat mengaplikasikan metode ini lewat kegiatan belajar mengajar seperti biasa. Selam proses belajar mengajar, jenis perilaku siswa diteliti, dicatt dalm lembar format observasi yang dirancang khusus sesuai data dan informsi yng dihimpun.

C. MANFAAT MEMPELAJARI PSIKOLOGI BELAJAR
Bagi seorang guru, yang tugas utamanya adalah mengajar, sangat penting memahami psikologi belajar. kegiatan pembelajaran, termasuk pembelajaran pendidikan agama Islam, sarat dengan muatan psikologis. mengabaikan aspek – aspek psikologis dalam proses pembelajaran akan berakibat kegagalan, sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai. Beberapa peran penting psikologi dalam proses pembelajaran adalah :
1. memahami siswa sebagai pelajar, meliputi perkembangannya, tabiat, kemampuan, kecerdasan, motivasi, minat, fisik, pengalaman, kepribadian, dan lain-lain
2. memahami prinsip – prinsip dan teori pembelaaran
3. memilih memetode – metode pembelajaran dan pengajaran
4. meetapkan tujuan pembelajaran dan pengajaran
5. menciptaka situasi pembelajaran dan pengajaran yang kondusif
6. memilih dan menetapkan isi pengajaran
7. membantu peserta didik yang mengalami kesulitan belajar
8. memilih alat Bantu pembelajaran dan pengajaran
9. menilai hasil pembelajaran dan pengajaran
10. memahami dan mengembangkan kepribadian dsan profesi guru
11. membimbing perkembangan siswa

Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa antara proses perkembangan dengan proses belajar mengajar memiliki keterkaitan. Sehubungan dengan ini, setiap guru sekolah selayaknya memahami seluruh proses dan perkembangan manusia, khususnya siswa. Pengetahuan mengenai proses dan perkembangan dan segala aspeknya itu sangat bermanfaat, antara lain :
1. guru dapat memberikan layanan dan bantuan dan bimbingan yang tepat kepada siswa dengan pendekatan yang relefan denga tingakat perkembangannya
2. guru dapat mengantisipasi kemungkinan – kemungkinan timbulnya kesulitan belajar siswa tertentu
3. guru dapat memertimbangkan waktu yang tepat dlam memulai aktifitas proses belajar mengajar bidang studi tertentu
4. guru dapat menemukan dan menetapkan tujuan – tujuan pengajaran sesuai dengan kemampuan psikologisnya

Dari beberapa peranan psikologi belajar di atas, dapat kita khususkan sebagai berikut :
a. psikologi belajar memiliki peranan penting dalam membantu mempersiapkan guru atau calon guru yang professional
b. pengetahuan tentang psikologi belajar diharapkan mampu membantu memecahkan permasalahan siswa dalam belajar
c. pengetahuan tentang psikologi belajar memudahkan penerapan pengetahuan, pendekatan dan komunikasi kepada anak didik
d. pengetahuan tentang psikologi belajar membantu mencipatakan suasana edukatif dan efektif

D. KESIMPULAN
Riset – riset psikologis berkenaan dengan pembelajaran pendidikan agama Islam, memanfaatkan metode tertentu, seperti : (1) eksperimen, (2) kuesioner, (3) studi kasus, (4) penyelidikan klinis, (5) obsevasi naturalistic.
Peranan psikologi belajar:
a. psikologi belajar memiliki peranan penting dalam membantu mempersiapkan guru atau calon guru yang professional
b. pengetahuan tentang psikologi belajar diharapkan mampu membantu memecahkan permasalahan siswa dalam belajar
c. pengetahuan tentang psikologi belajar memudahkan penerapan pengetahuan, pendekatan dan komunikasi kepada anak didik
d. pengetahuan tentang psikologi belajar membantu mencipatakan suasana edukatif dan efektif





E. DAFTAR PUSTAKA


Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar. Jakarta : LOGOS Wahana Ilmu. 1999
Tohirin. Psikologi PembelajaranPendidikan Agama Islam. Jakarta : PT. Raja Grafindo. 2005


MAKALAH METODE PENELITIAN PSIKOLOGI BELAJAR DAN MANFAAT MEMPELAJARI PSIKOLOGI BELAJAR
 

Blog Ga Jelass Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting